Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Paus Leo XIV Dianggap Pemimpin Profetik untuk Dunia yang Bergejolak

129
×

Paus Leo XIV Dianggap Pemimpin Profetik untuk Dunia yang Bergejolak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, 9 Mei 2025 | khabarpetang.my.id — Terpilihnya Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus Leo XIV pada Kamis (8/5) disambut positif oleh berbagai kalangan, termasuk tokoh muda Katolik di Indonesia. Pemilihan nama Leo dinilai bukan semata pilihan simbolik, melainkan isyarat kuat atas arah moral dan sosial Gereja Katolik di bawah kepemimpinan baru.

Menurut DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., M.H., M.Mar, anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Pemuda Katolik, nama Leo merujuk pada semangat reformis Paus Leo XIII yang dikenal memperjuangkan hak-hak buruh dan martabat manusia. “Pilihan nama ini menyiratkan keberpihakan kepada kaum kecil dan nilai-nilai keadilan sosial,” ujarnya di Jakarta.

Example 300x600

Capt. Hakeng menilai latar belakang Paus Leo XIV yang dikenal dekat dengan komunitas marginal menjadikannya figur yang relevan bagi tantangan zaman. “Gereja tidak cukup hanya berkhotbah dari mimbar. Ia harus menjadi pendamping umat manusia dalam luka dan harapannya,” tambahnya.

Sebagai mantan misionaris, pemimpin ordo religius, dan warga negara Amerika Serikat, Paus Leo XIV disebut memiliki kapasitas global untuk menjembatani berbagai ketegangan geopolitik. “Ia hadir di saat dunia dilanda krisis sosial, ekonomi, dan ekologis. Kepemimpinan profetik sangat dibutuhkan,” kata Capt. Hakeng.

Tantangan Global dan Harapan Moral

Capt. Hakeng menekankan bahwa tantangan utama Paus Leo XIV tidak hanya terbatas pada reformasi internal Gereja, melainkan juga memikul peran moral dalam isu-isu global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan dampak era digital. “Kita butuh pemimpin religius yang mampu menggerakkan transformasi moral dunia, bukan sekadar menjaga tradisi,” ujarnya.

Harapan Generasi Muda

Pemimpin muda Katolik Indonesia juga berharap kepemimpinan baru Vatikan mampu menjawab pencarian makna generasi muda. “Anak muda ingin Gereja yang mendengar, berdialog, dan hadir secara nyata,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya reformasi pastoral yang kontekstual, empatik, dan membumi.

Menurutnya, pendidikan iman harus melahirkan kesadaran sosial dan spiritualitas yang relevan, bukan sekadar mengulang doktrin. “Iman harus bertemu dengan realitas,” tegasnya.

Peluang untuk Gereja Indonesia

Capt. Hakeng juga menyoroti pentingnya momentum ini bagi Gereja Katolik di Indonesia. Ia mendorong peran aktif organisasi pemuda Katolik dalam membangun dialog antariman dan memperkuat kepemimpinan berbasis pelayanan. “Semangat Paus Leo XIV harus menjadi inspirasi untuk menjadikan Gereja lebih inklusif dan transformatif,” ungkapnya.

Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman agama tinggi, dinilai memiliki peran strategis dalam misi membangun solidaritas global. “Kami berharap Paus mendorong terbentuknya koalisi moral antaragama untuk merespons isu-isu global seperti radikalisme, kemiskinan, dan krisis lingkungan,” ujarnya.

Capt. Hakeng menutup pernyataannya dengan nada optimistis. “Kami percaya, Paus Leo XIV bukan hanya pemimpin umat Katolik, tapi juga gembala umat manusia yang sedang mencari arah di tengah dunia yang bergejolak,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *