Pekanbaru | khabarpetang.my.id – Pimpinan Redaksi Tran7riau.com, A. Rustandi, menyoroti fenomena meningkatnya penyalahgunaan profesi wartawan oleh oknum-oknum yang tidak memiliki kompetensi maupun etika jurnalistik. Menurutnya, banyak individu saat ini yang hanya bermodal kartu pers namun menyalahgunakan status tersebut untuk kepentingan pribadi, bahkan hingga melakukan pemerasan terhadap narasumber.
“Siapa pun kini bisa menyebut dirinya wartawan, padahal tidak memiliki kemampuan dasar jurnalistik. Hanya bermodal kartu pers, mereka justru menakut-nakuti narasumber dengan ancaman pemberitaan sepihak dan tidak objektif,” kata Rustandi kepada media, Jumat (1/8/2025).
Ia menyampaikan kekhawatirannya atas tren ini yang dinilai mencoreng nama baik profesi wartawan. Rustandi juga mengungkapkan bahwa di sejumlah kabupaten di Riau, organisasi perusahaan media kerap menerima laporan dari narasumber yang menjadi korban intimidasi dan pemerasan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengaku wartawan.
“Banyak narasumber yang datang berkonsultasi karena merasa diperas. Mereka dipaksa menukar narasi berita dengan sejumlah uang. Ini sangat mencoreng nama baik profesi wartawan. Satu oknum yang menyimpang bisa merusak citra seluruh wartawan,” ujarnya prihatin.
Rustandi pun berharap Dewan Pers sebagai lembaga pengatur dan pengawas dunia pers di Indonesia dapat memperketat regulasi terkait pendirian media massa, serta memastikan bahwa wartawan yang diakui benar-benar memiliki kompetensi dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
“Semoga ke depan pendirian perusahaan media harus benar-benar selektif, agar profesi wartawan dijalankan oleh mereka yang kompeten dan berintegritas,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa profesi wartawan merupakan profesi yang penting dan memiliki akses luas terhadap informasi, namun hal tersebut kerap disalahgunakan oleh pihak-pihak yang hanya ingin bergaya dan memanfaatkan status tanpa tanggung jawab.
“Profesi ini memang punya daya tarik. Tapi yang mengecewakan, ada yang hanya ingin menyandang predikat wartawan tanpa mau belajar menulis, tanpa etika. Mereka malah memanfaatkan kartu pers untuk gagah-gagahan dan menakut-nakuti,” tegas Rustandi.
Sebagai penutup, Rustandi mengingatkan bahwa menjadi wartawan sejati tidak hanya memerlukan keterampilan teknis, tetapi juga integritas, empati, dan komitmen untuk menyuarakan kebenaran serta melayani kepentingan publik.


















