JAKARTA, | khabarpetang.my.id — Virus Nipah (NiV) kembali menjadi sorotan dunia kesehatan internasional menyusul tingginya risiko penularan dan angka kematian yang ditimbulkannya. Virus zoonosis ini dikenal sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan, dengan tingkat fatalitas yang dapat mencapai 40 hingga 75 persen, serta hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada wabah tahun 1998–1999 di Malaysia, yang saat itu menyebabkan ratusan kasus ensefalitis akut. Penelitian menunjukkan bahwa kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus merupakan inang alami virus ini, sementara babi pernah tercatat sebagai hewan perantara dalam penularan ke manusia.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, serta penularan dari manusia ke manusia, khususnya melalui droplet pernapasan dan cairan tubuh pada kontak erat.
Gejala Awal hingga Kondisi Kritis :
Secara medis, gejala awal infeksi Virus Nipah sering kali tidak spesifik dan menyerupai penyakit infeksi saluran pernapasan, seperti demam tinggi, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan kelelahan. Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat.
“Yang membuat Virus Nipah sangat berbahaya adalah kemampuannya menyerang sistem saraf pusat. Banyak pasien berkembang menjadi radang otak akut (ensefalitis) yang menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, hingga koma,” ujar Dr. Andi Kurniawan, epidemiolog dari salah satu perguruan tinggi kesehatan di Indonesia.
Menurutnya, progresivitas penyakit yang cepat sering kali menyulitkan penanganan, terutama jika pasien terlambat mendapatkan perawatan intensif.
Belum Ada Vaksin, Pencegahan Jadi Kunci :
Hingga saat ini, belum tersedia terapi antivirus spesifik untuk Virus Nipah. Penanganan pasien masih bersifat suportif, yakni menjaga fungsi pernapasan, kestabilan cairan tubuh, serta kerja organ vital lainnya di fasilitas kesehatan.
“Karena belum ada obat maupun vaksin, pencegahan menjadi strategi paling efektif. Deteksi dini, isolasi pasien, serta perlindungan tenaga medis sangat menentukan keberhasilan pengendalian,” jelas dr. Siti Rahmah, spesialis penyakit infeksi.
Ia menambahkan, masyarakat perlu mewaspadai kebiasaan mengonsumsi buah yang jatuh ke tanah atau minuman mentah seperti nira yang berpotensi terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.
Masuk Daftar Penyakit Prioritas WHO :
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Virus Nipah ke dalam Blueprint Priority Diseases, yaitu daftar penyakit yang berpotensi menyebabkan wabah besar dan membutuhkan riset mendesak. Penilaian ini didasarkan pada tingginya angka kematian, kemampuan penularan antar manusia, serta keterbatasan penanganan medis.
“Virus Nipah memiliki semua karakteristik patogen berisiko tinggi. Jika terjadi transmisi luas tanpa pengendalian, dampaknya bisa sangat serius,” kata Dr. Andi Kurniawan.
Imbauan untuk Masyarakat :
Pakar kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun waspada. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, kewaspadaan terhadap sumber makanan, serta kesadaran untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan setelah kontak berisiko, menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran.
Dengan meningkatnya mobilitas manusia dan interaksi dengan satwa liar, kewaspadaan terhadap Virus Nipah dinilai semakin relevan. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengantisipasi ancaman penyakit zoonosis mematikan ini.



















