Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITADaerahNasional

AKBP Suwinto Dianugerahi Gelar Dato Petinggi pada Tradisi Robo’-Robo’ Kerajaan Amantubillah Mempawah

50
×

AKBP Suwinto Dianugerahi Gelar Dato Petinggi pada Tradisi Robo’-Robo’ Kerajaan Amantubillah Mempawah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Mempawah, | khabarpetang.my.id — Kerajaan Amantubillah Mempawah, Kalimantan Barat, kembali menggelar tradisi adat penuh khidmat dalam rangkaian Pagelaran Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tradisi Robo’- Robo’. Salah satu agenda penting pada prosesi Selasa malam (19/8/2025) tersebut adalah penganugerahan Darjah Kebesaran kepada tokoh yang dinilai berjasa dalam menjaga kekerabatan dan kepedulian terhadap masyarakat.

Example 300x600

Dalam kesempatan itu, AKBP Suwinto, S.H., S.I.K., menerima gelar kehormatan Dato Petinggi. Prosesi adat berlangsung sekitar pukul 19.20 WIB di Keraton Amantubillah dan dipimpin langsung oleh Sultan Mempawah XIII, Baginda Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M.Sc.

Prosesi penganugerahan diawali dengan penyematan selempang dan tanda kehormatan di hadapan para pembesar adat, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari berbagai daerah. Suasana sakral kian terasa saat Sultan Mempawah membacakan maklumat penobatan dan menyerahkan gelar adat kepada AKBP Suwinto.

Selain AKBP Suwinto, dua tokoh dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) juga turut mendapat gelar kehormatan, yakni Anggota DPRD Kepri Dato Suhadi dan Dato Boby Jayanto. Hal ini menegaskan kuatnya hubungan kekerabatan antara Kerajaan Amantubillah dengan masyarakat Melayu di perantauan.

Sultan Mempawah XIII menegaskan, pemberian gelar adat merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi tokoh yang senantiasa menjaga nilai budaya serta silaturahmi lintas daerah.

“Gelar ini kami berikan sebagai penghormatan atas pengabdian dan kontribusi beliau dalam mengayomi masyarakat. Semoga dengan gelar Dato Petinggi, semakin kuat ikatan antara kepolisian, adat, dan masyarakat,” ungkap Sultan dalam sambutannya.

Menerima gelar kehormatan tersebut, AKBP Suwinto menyampaikan rasa haru dan syukur. Ia menilai anugerah adat ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga sebuah amanah besar.

“Ini merupakan kehormatan besar bagi saya pribadi dan institusi Polri. Gelar ini akan menjadi motivasi untuk terus bekerja melayani masyarakat dengan tulus serta menjaga sinergi bersama para tokoh adat dan seluruh lapisan masyarakat,” ujar Suwinto.

Kebanggaan juga dirasakan oleh para tokoh dari Kepulauan Riau yang turut menerima gelar adat. Dato Suhadi, Anggota DPRD Kepri, menegaskan bahwa gelar kehormatan tersebut memperkokoh ikatan persaudaraan Melayu.

“Kami merasa bangga bisa menjadi bagian dari prosesi adat yang sakral ini. Gelar kehormatan yang diberikan kepada AKBP Suwinto maupun tokoh dari Kepri menunjukkan eratnya persaudaraan Melayu lintas daerah. Semoga sinergi ini terus terjalin demi kebaikan bersama,” tutur Dato Suhadi.

Sementara itu, Dato Boby Jayanto menambahkan bahwa gelar adat bukan sekadar simbol, melainkan pengingat pentingnya menjaga warisan budaya.

“Tradisi ini adalah warisan berharga yang harus kita lestarikan. Gelar kehormatan dari Kerajaan Amantubillah memperkuat semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap masyarakat,” katanya.

Selain menjadi kehormatan personal, penganugerahan Darjah Kekerabatan kepada AKBP Suwinto juga memiliki nilai strategis bagi institusi Polri.

Penguatan Soft Power: Kedekatan Polri dengan Kerajaan Amantubillah dapat menjadi jembatan komunikasi kultural untuk menjaga keamanan dan menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat.

Legitimasi Sosial: Keterlibatan Polri dalam struktur kehormatan adat memperkuat kehadiran negara dalam konteks budaya dan kearifan lokal, sehingga semakin mendekatkan Polri dengan masyarakat.

Tradisi Robo’- Robo’ merupakan warisan budaya masyarakat Mempawah yang sudah berlangsung turun-temurun sejak abad ke-18. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Robo’-Robo’ memiliki makna sejarah yang erat kaitannya dengan kedatangan Opu Daeng Menambun dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah. Saat itu, kedatangan beliau disambut meriah oleh masyarakat dengan doa bersama, tabur bunga, serta pembagian makanan di tepi sungai. Sejak itu, tradisi Robo’-Robo’ diwariskan sebagai simbol syukur, doa keselamatan, dan persaudaraan masyarakat Mempawah.

Kini, Robo’-Robo’ tidak hanya menjadi kegiatan adat, tetapi juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Setiap tahun, ribuan masyarakat hadir untuk mengikuti doa bersama, ziarah, dan ritual adat yang dilanjutkan dengan berbagai kegiatan budaya serta penganugerahan kehormatan dari pihak kerajaan.

Penganugerahan gelar adat kepada AKBP Suwinto, serta Dato Suhadi dan Dato Boby Jayanto, menjadi momentum penting yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai budaya Melayu dapat mempererat hubungan lintas daerah. Ikatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat dalam menjaga persatuan, ketertiban, dan keharmonisan sosial.

Dengan demikian, prosesi adat di Keraton Amantubillah Mempawah bukan hanya sekadar seremoni, melainkan penegasan kembali bahwa adat, budaya, dan negara dapat berjalan beriringan dalam bingkai persaudaraan dan kebersamaan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *