Khabarpetang.my.id,Pangkalpinang – Transformasi industri menuju arah yang lebih berkelanjutan kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tekanan krisis lingkungan global. Hal tersebut disampaikan Dr. Ir. Ahmad Nahwani, ST, MT, dalam wawancara ujian profesional yang mengantarkannya meraih gelar Insinyur Profesional Utama (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Dalam pemaparannya di hadapan tim ahli teknik industri PII pada Jumat (24/4/2026), Ahmad Nahwani menegaskan bahwa pendekatan keberlanjutan dalam teknik industri harus dimulai sejak tahap paling awal, yakni perancangan produk atau eco-design.
Menurutnya, seorang insinyur tidak lagi hanya berfokus pada fungsi dan biaya, tetapi juga harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup produk, mulai dari bahan baku hingga limbah yang dihasilkan.
“Produk yang dirancang hari ini harus sudah memikirkan dampaknya di masa depan. Penggunaan material yang dapat didaur ulang, tidak beracun, serta berbasis hayati menjadi kunci utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, efisiensi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konsep tersebut. Produk harus tetap kuat dan fungsional, namun menggunakan bahan baku seminimal mungkin. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi eksploitasi sumber daya alam.
Lebih lanjut, Ahmad Nahwani menyoroti pentingnya penerapan green manufacturing di tingkat produksi. Optimalisasi proses di lantai pabrik, katanya, perlu diarahkan untuk menekan jejak karbon secara signifikan.
Penggunaan mesin hemat energi serta pemanfaatan teknologi sensor pintar berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan efisiensi energi yang lebih presisi, termasuk penghentian daya otomatis saat mesin tidak digunakan.
Selain itu, pengelolaan limbah produksi juga menjadi perhatian utama. Ia menegaskan bahwa limbah tidak lagi dapat dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai potensi sumber daya baru.
“Sisa produksi harus diolah agar bisa kembali masuk ke jalur produksi atau bahkan dimanfaatkan oleh industri lain,” jelasnya.
Konsep tersebut berkembang lebih luas melalui industrial symbiosis atau simbiosis industri, di mana limbah dari satu industri dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi industri lainnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan uap panas sisa dari pembangkit listrik yang dapat digunakan untuk mendukung proses produksi di pabrik lain, seperti industri makanan.
Menurutnya, pola kolaboratif semacam ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih terintegrasi dan ramah lingkungan.
Pencapaian gelar IPU yang diraihnya, lanjut dia, bukan sekadar pengakuan profesional, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di sektor industri.
Ahmad Nahwani berharap para insinyur di Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan solusi inovatif yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.
“Industri masa depan adalah industri yang mampu bertumbuh tanpa merusak. Di situlah peran insinyur menjadi sangat krusial,” tegasnya.
(KBO Babel)
Editor : DM

















